-
SLIDE-1-TITLE-HERE
Replace these every slide sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]
-
SLIDE-2-TITLE-HERE
Replace these every slide sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]
-
SLIDE-3-TITLE-HERE
Replace these every slide sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]
#
#
Kamis, 08 November 2012
pantai depok
Pantai
Sundak, Perkelahian Asu dan Landak yang Menuai Berkah
Pantai Sundak tak hanya memiliki
pemandangan alam yang mengasyikkan, tetapi juga menyimpan cerita. Nama Sundak
ternyata mengalami evolusi yang bukti-buktinya bisa dilacak secara geologis.
Agar tahu bagaimana evolusinya, maka
pengunjung mesti tahu dulu kondisi pinggiran Pantai Sundak dulu dan kini. Di
bagian pinggir barat pantai ketika YogYES berkunjung terdapat masjid dan ruang
kosong yang sekarang dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah
timur terdapat gua yang terbentuk dari batu karang berketinggian kurang lebih
12 meter. Memasuki gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapatkan
air tawar.
Wilayah yang
diuraikan di atas sebelum tahun 1930 masih terendam lautan. Konon, air sampai
ke wilayah yang kini dibangun masjid, batu karang yang membentuk gua pun masih
terendam air. Seiring proses geologi di pantai selatan, permukaan laut menyusut
dan air lebih menjorok ke laut. Batu karang dan wilayah di dekat masjid
akhirnya menjadi daratan baru yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk
aktivitas ekonominya hingga saat ini.
Ada fenomena
alam unik akibat aktivitas tersebut yang akhirnya menjadi titik tolak penamaan
pantai ini. Jika musim hujan tiba, banyak air dari daratan yang mengalir menuju
lautan. Akibatnya, dataran di sebelah timur pantai membelah sehingga membentuk
bentukan seperti sungai. Air yang mengalir seperti mbedah (membelah)
pasir. Bila kemarau datang, belahan itu menghilang dan seiring dengannya air
laut datang membawa pasir. Fenomena alam inilah yang menyebabkan nama pantai
menjadi Wedibedah (pasir yang terbelah). Saat YogYES datang wedi tengah
tidak terbelah.
Perubahan
nama berlangsung beberapa puluh tahun kemudian. Sekitar tahun 1976, ada sebuah
kejadian menarik. Suatu siang, seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai
dan memasuki gua karang bertemu dengan seekor landak laut. Karena lapar, si
anjing bermaksud memakan landak laut itu tetapi si landak menghindar.
Terjadilah sebuah perkelahian yang akhirnya dimenangkan si anjing dengan
berhasil memakan setengah tubuh landak laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan
si anjing diketahui pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh
landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan
setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah
menjadi Sundak, singkatan dari asu (anjing) dan landak.
Tak dinyana,
perkelahian itu membawa berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan
tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Awalnya, si pemilik
anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesanya, di
gua tersebut terdapat air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak.
Setelah mencoba menyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut
benar. Jadbisu sejarahnya, Sundak juga menawarkan suasana malam yang
menyenangkan. Anda bisa menikmati angin malam dan bulan sambil memesan ikan
mentah untuk dibakar beramai-ramai bersama teman. Dengan membayar beberapa
ribu, Anda dapat membeli kayu untuk bahan bakar. Kalau malas, pesan saja yang
matang sehingga siap santap. Yang jelas, tak perlu bingung mencari tempat
menginap. Pengunjung bisa tidur di mana saja, mendirikan tenda, atau tidur saja
di bangku warung yang kalau malam tak terpakai. Kegelapan tak perlu diributkan,
bukankah membosankan jika hidup terus terang benderang?
Kalau mau,
berinteraksi dengan penduduk bisa menjadi suatu pencerahan. Anda bisa
mengetahui bagaimana penduduk hidup, kebudayaan mereka, dan tentu saja orang
baru yang mungkin saja mampu mengubah pandangan hidup anda. Menemui Mbah
Tugiman yang biasa berjaga di tempat parkir atau Mbah Arjasangku bisa
jadi pilihan. Mereka merupakan salah satu sesepuh di pantai Sundak. Bercakap
dengan mereka membuat anda tidak sekedar menyaksikan bukti sejarah tetapi juga
mendapat cerita dari orang yang menyaksikan bagaimana sejarah terukir.
Datanglah, semua yang di sana sudah menunggu!
Galeri Foto PANTAI SUNDAK
pantai ngobaran
Pantai
Ngobaran, dari Pura hingga Landak Laut Goreng
Datang ke Pantai Ngrenehan dan
menikmati ikan bakarnya belum lengkap kalau tak mampir di pantai sebelahnya,
Ngobaran. Letak pantai yang bertebing tinggi ini hanya kurang lebih dua
kilometer dari Pantai Ngrenehan. Tak jauh bukan? Penduduk Pantai Ngrenehan saja
sering membicarakan dan mampir ke Pantai Ngobaran, mengapa anda tidak?
Ngobaran merupakan pantai yang cukup
eksotik. Kalau air surut, anda bisa melihat hamparan alga (rumput laut)
baik yang berwarna hijau maupun coklat. Jika dilihat dari atas, hamparan alga
yang tumbuh di sela-sela karang tampak seperti sawah di wilayah padat penduduk.
Puluhan jenis binatang laut juga terdapat di sela-sela karang, mulai dari
landak laut, bintang laut, hingga golongan kerang-kerangan.
Tapi yang
tak terdapat di pantai lain adalah pesona budayanya, mulai dari bangunan hingga
makanan penduduk setempat. Satu diantaranya yang menarik adalah adanya tempat
ibadah untuk empat agama atau kepercayaan berdiri berdekatan. Apakah itu bentuk
multikulturalisme? Siapa tahu.
Bangunan
yang paling jelas terlihat adalah tempat ibadah semacam pura dengan
patung-patung dewa berwarna putih. Tempat peribadatan itu didirikan tahun 2003
untuk memperingati kehadiran Brawijaya V, salah satu keturunan raja Majapahit,
di Ngobaran. Orang yang beribadah di tempat ini adalah penganut kepercayaan
Kejawan (bukan Kejawen lho). Nama "Kejawan" menurut cerita
berasal dari nama salah satu putra Brawijaya V, yaitu Bondhan Kejawan.
Pembangun tempat peribadatan ini mengaku sebagai keturunan Brawijaya V dan
menunjuk salah satu warga untuk menjaga tempat ini.
Berjalan ke
arah kiri dari tempat peribadatan tersebut, Anda akan menemui sebuah Joglo yang
digunakan untuk tempat peribadatan pengikut Kejawen. Saat YogYES berkunjung ke
tempat ini, beberapa pengikut Kejawen sedang melakukan sembahyangan. Menurut
penduduk setempat, kepercayaan Kejawen berbeda dengan Kejawan. Namun mereka
sendiri tak begitu mampu menjelaskan perbedaannya.
Bila terus
menyusuri jalan setapak yang ada di depan Joglo, anda akan menemukan sebuah
kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Tanaman tersebut dipagari dengan kayu
berwarna abu-abu. Titik dimana ranting kering ini tumbuh konon merupakan tempat
Brawijaya V berpura-pura membakar diri. Langkah itu ditempuhnya karena
Brawijaya V tidak mau berperang melawan anaknya sendiri, Raden Patah (Raja I
Demak).
Kebenaran
cerita tentang Brawijaya V ini kini banyak diragukan oleh banyak sejarahwan.
Sebabnya, jika memang Raden Patah menyerang Brawijaya V maka akan memberi kesan
seolah-olah Islam disebarkan dengan cara kekerasan. Banyak sejarahwan
beranggapan bahwa bukti sejarah yang ada tak cukup kuat untuk menyatakan bahwa
Raden Patah melakukan penyerangan. Selengkapnya bagaimana, mungkin Anda bisa
mencari sendiri.
Beberapa
meter dari kotak tempat ranting kering tumbuh terdapat pura untuk tempat
peribadatan umat Hindu. Tak jelas kapan berdirinya pura tersebut.
Di bagian
depan tempat ranting tumbuh terdapat sebuah masjid berukuran kurang lebih 3x4
meter. Bangunan masjid cukup sederhana karena lantainya pun berupa pasir.
Seolah menyatu dengan pantainya. Uniknya, jika kebanyakan masjid di Indonesia
menghadap ke Barat, masjid ini menghadap ke selatan. Bagian depan tempat imam
memimpin sholat terbuka sehingga langsung dapat melihat lautan. Ketika YOGYES
menanyakan pada penduduk setempat, tak banyak yang tahu tentang alasannya.
Bahkan, penduduk setempat sendiri heran karena yang membangun pun salah satu
Kyai terkenal pengikut Nahdatul Ulama yang tinggal di Panggang, Gunung Kidul.
Sebagai petunjuk bagi yang akan sholat, penduduk setempat memberi tanda di
tembok dengan pensil merah tentang arah kiblat yang sebenarnya.
Setelah puas
terheran-heran dengan situs peribadatannya, Anda bisa berjalan turun ke pantai.
Kalau datang pagi, maka pengunjung akan menjumpai masyarakat pantai tengah
memanen rumput laut untuk dijual kepada tengkulak. Mereka biasanya menjual
rumput laut dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilo. Hasilnya lumayan
untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Namun, kalau
datang sore, biasanya Anda akan menjumpai warga tengah mencari landak laut
untuk dijadikan makanan malam harinya. Untuk bisa dimakan, landak laut dikepras
dulu durinya hingga rata dan kemudian dipecah menggunakan sabit. Daging yang
ada di bagian dalam landak laut kemudioan dicongkel. Biasanya warga mencari
landak hanya berbekal ember, saringan kelapa, sabit, dan topi kepala untuk
menghindari panas.
Landak laut
yang didapat biasanya diberi bumbu berupa garam dan cabe kemudian digoreng.
Menurut penduduk, daging landak laut cukup kenyal dan lezat. Sayangnya, tak
banyak penduduk yang menjual makanan yang eksotik itu. Tapi kalau mau memesan,
coba saja meminta pada salah satu penduduk untuk memasakkan. Siapa tahu, anda
juga bisa berbagi ide tentang bagaimana memasak landak laut sehingga warga
pantai Ngobaran bisa memakai pengetahuan itu untuk berbisnis meningkatkan taraf
kehidupannya.
Lengkap
bukan? Dari keindahan pantai, pesona tempat peribadatan hingga hidangan yang
menggoda. Mungkin tak ada di tempat lain.
Galeri Foto PANTAI NGOBARAN
pantai indrayanti
PANTAI
INDRAYANTI
Pantai Bersih dengan Restoran Cafe
Pantai Bersih dengan Restoran Cafe
Matahari belum tinggi saat YogYES
tiba di Pantai Indrayanti. Dua ekor siput laut bergerak pelan di sebuah ceruk
karang, tak peduli dengan ombak yang menghempas. Segerombol remaja asyik
bercengkerama sambil sesekali bergaya untuk diambil gambarnya. Di sebelah barat
nampak 3 orang sedang berlarian mengejar ombak, sebagian lainnya bersantai di
tengah gazebo sembari menikmati segarnya kelapa muda yang dihidangkan langsung
bersama buahnya. Beberapa penginapan yang dikonsep back to nature berdiri
dengan gagah di bawah bukit, sedangkan rumah panggung dan gubug yang menyerupai
honai (rumah adat Papua) berdiri di dekat pantai. Jet ski kuning teronggok di
sudut restoran.
Terletak di sebelah timur Pantai
Sundak, pantai yang dibatasi bukit karang ini merupakan salah satu pantai yang
menyajikan pemandangan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain yang ada di
Gunungkidul. Tidak hanya berhiaskan pasir putih, bukit karang, dan air biru
jernih yang seolah memanggil-manggil wisatawan untuk menceburkan diri ke
dalamnya, Pantai Indrayanti juga dilengkapi restoran dan cafe serta deretan
penginapan yang akan memanjakan wisatawan. Beragam menu mulai dari hidangan
laut hingga nasi goreng bisa di pesan di restoran yang menghadap ke pantai ini.
Pada malam hari, gazebo-gazebo yang ada di bibir pantai akan terlihat cantik
karena diterangi kerlip sinar lampu. Menikmati makan malam di cafe ini ditemani
desau angin dan alunan debur ombak akan menjadi pengalaman romantis yang tak
terlupa.
Penyebutan
nama Pantai Indrayanti sebelumnya menuai banyak kontraversi. Indrayanti
bukanlah nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran. Berhubung nama
Indrayanti yang terpampang di papan nama cafe dan restoran pantai, akhirnya
masyarakat menyebut pantai ini dengan nama Pantai Indrayanti. Sedangkan
pemerintah menamai pantai ini dengan nama Pantai Pulang Syawal. Namun nama
Indrayanti jauh lebih populer dan lebih sering disebut daripada Pulang Syawal.
Keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan Pantai Indrayanti rupanya turut
membawa dampak positif. Berbeda dengan pantai-pantai lain yang agak kotor,
sepanjang garis pantai Indrayanti terlihat bersih dan bebas dari sampah. Hal
ini dikarenakan pengelola tak segan-segan menjatuhkan denda sebesar Rp. 10.000
untuk tiap sampah yang dibuang oleh wisatawan secara sembarangan. Karena itu
Indrayanti menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.
Usai
menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda di gazebo, YogYES beranjak
menuju bukit di sisi timur. Berhubung tidak ada jalan, menerobos semak dan
perdu sembari memanjat karang pun menjadi pilihan. Sesampainya di atas bukit
pemandangan laut yang bebatasan dengan Samudra Hindia terhampar. Beberapa
burung terbang sambil membawa ilalang untuk membangun sarang. Suara debur ombak
dan desau angin berpadu menciptakan orkestra yang indah dan menenangkan. YogYES
pun melayangkan pandangan ke arah barat. Beberapa pantai yang dipisahkan oleh
bukit-bukit terlihat berjajar, gazebo dan rumah panggung terlihat kecil,
sedangkan orang-orang laksana liliput. Saat senja menjelang, tempat ini akan
menjadi spot yang bagus untuk menyaksikan mentari yang kembali ke peraduannya.
Sayang YogYES harus bergegas pulang. Meski tidak sempat menyaksikan senja yang
indah, pesona Pantai Indrayanti telah terpatri di hati.
Galeri Foto PANTAI INDRAYANTI
istana ratu boko
Istana
Ratu Boko, Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian
Istana Ratu Boko adalah sebuah
bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah
satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri
Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk
tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana
ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota
Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.
Istana ini terletak di 196 meter di
atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi
empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari
bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan
Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi,
kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di
bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.
Bila masuk
dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah
gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara
gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan
ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III,
dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil
alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan,
memberi 'kekuatan' sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu
adalah bangunan utama.
Sekitar 45
meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar
batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan
ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x
26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk
pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan
ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi
Pembakaran.
Sumur penuh
misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran.
Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang
diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat
mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya.
Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari
sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya,
yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada
harmoni awalnya. YogYES menyarankan anda berkunjung ke Candi Prambanan sehari
sebelum Nyepi jika ingin melihat proses upacaranya.
Melangkah ke
bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20
meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu
terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih
atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon.
Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan
sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu
Pantheon Budha.
Meski
didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat
dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang
bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan
terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur
Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya
arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha
hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.
Sedikit yang
tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera.
Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika
diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai
orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai
Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah ia kalah dan
melarikan diri ke Sumatera, barulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.
Sebagai
sebuah bangunan peninggalan, Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding
peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka
sesuai namanya istana ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu
ditunjukkan dari adanya bangunan berupa tiang dan atap yang terbuat dari bahan
kayu, meski kini yang tertinggal hanya batur-batur dari batu saja. Telusurilah
istana ini, maka anda akan mendapatkan lebih banyak lagi, salah satunya
pemandangan senja yang sangat indah. Seorang turis asal Amerika Serikat mengatakan,
"Inilah senja yang terindah di bumi."








